Monday , March 27 2017
Beranda / Arsip Berita / Inspirasi / “Passion” Itu Bukan Agama

“Passion” Itu Bukan Agama

Dalam sebuah kuliah di depan para mahasiswa saya pernah mendapat pertanyaan soal passion. “Saya ingin bekerja sesuai passion saya. Bagaimana bila pekerjaan yang tersedia ternyata tidak sesuai passionsaya? Saya bekerja, tapi tidak menikmatinya. Mungkin saya tidak akan betah.”

Saya jawab dengan petanyaan balik. “Bisakah kamu makan passion-mu?”

“Tidak.”

“Bisakah kamu bayar uang kos pakai passion?”

“Tidak.”

“Bisakah kamu traktir pacar kamu dengan passion?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, lupakan passion kamu. Kamu sekarang butuh kerja untuk bertahan hidup. Passion itu barang mewah, bukan kebutuhan primer. Bekerjalah apa saja, yang penting kamu hidup mandiri. Urus passionkamu nanti, kalau sudah mapan.”

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak perlu punya passion. Saya juga tidak bilang tidak perlu bekerja dengan passion. Sangat perlu.

Saya hanya hendak mengatakan, jangan jadikan passion sebagai alat bunuh diri. Memilih menganggur, atau bekerja tanpa masa depan atas nama passion menurut saya naif.

Oke, Anda punya passion. Carilah kerja sesuai passion itu. Cari sampai dapat. Kalau tidak dapat bagaimana? Cari lagi, sampai dapat. Kalau tidak dapat juga bagaimana? Lakukan sesuatu dengan passion itu sampai Anda dapat uang. Sadarkah Anda bahwa usaha keras untuk membuat passion itu berharga ada sebuah passion juga?

Ya, banyak orang konyol, mengaku punya passion tetapi hidup tanpapassion. Ia hidup hanya menunggu. Menunggu kebetulan yang membawakan passion ke pangkuannya, atau mencari sekadarnya saja.

Itu salah. Kalau Anda punya passion, maka perjuangkanlah sampaipassion itu mengantarkan Anda kepada kesuksesan. Orang yang menganggur terlunta-lunta dengan alasan tidak menemukan pekerjaan sesuai passion, boleh jadi hanya seorang pecundang pemalas yang menutupi kemalasannya dengan dalih passion.

Namun, bagaimana bila memang tidak menemukan pekerjaan sesuaipassion tadi? Seperti saya katakan tadi, lupakan. Bertahan hidup lebih penting. Passion bisa diurus belakangan.

Akan tetapi, sebentar. Apa sih passion itu? Apakah ia seperti agama yang tak boleh diganti-ganti?

Passion saya dulu adalah riset dan mengajar. Makanya dulu saya menjadi dosen. Sempat saya bekerja sebentar sebagai engineer di lapangan minyak, tetapi saya tinggalkan. Saya memilih jadi dosen dengan gaji yang jauh lebih kecil.

Saya jalani passion itu selama sekitar 12 tahun. Dengan itu saya mengembara, tinggal di Jepang 10 tahun, mengunjungi berbagai negara dengan pekerjaan itu, menghasilkan belasan karya ilmiah di jurnal internasional. Saya menduduki jabatan terhormat di Jepang.

Namun, kemudian saya berada di persimpangan. Hidup bekerja di dunia akademis menjadi agak sulit waktu itu. Saya banting setir, memasuki dunia bisnis industri, mulai dari mengurusi tetek bengek administasi. Saya, dengan gelar doktor dan pengalaman riset, harus mengurus tetek bengek administrasi.

Kabar gembiranya adalah saya ternyata tidak perlu membuang passionsaya. Dalam interaksi dengan para staf saya, ternyata saya bisa memosisikan diri saya seperti guru. Saya bisa membimbing mereka seperti saya membimbing mahasiswa di kampus.

Lebih hebat lagi, saya menemukan banyak passion baru. Mengejar target produksi, meningkatkan nilai penjualan, cost down, kaizen, pengembangan produk, penghematan pajak, dan masih banyak lagi hal yang menggairahkan. Membuat target, mengejar target, kemudian menetapkan target baru, menjadi sangat menggairahkan.

Kemudian datang berbagai tawaran yang serba menantang. Saya ambil salah satunya. Ajaibnya, pada tawaran baru ini ada kesempatan untuk kembali berinteraksi dengan riset, meski saya tidak lagi menjadi peneliti.

Saya berinteraksi dengan peneliti di perusahaan tempat saya bekerja, bersama mereka memikirkan pengembangan produk dan memasarkannya. Saya juga mengelola sejumlah dana riset untuk kami sumbangkan kepada para peneliti Indonesia.

Bagaimana dengan mengajar? Perusahaan memberi saya kesempatan mengajar seluas-luasnya, di dalam maupun di luar perusahaan. Bagi saya, tersedia biaya perjalanan untuk pergi mengajar ke mana saja di seluruh Indonesia.

Selesai? Belum. Saya kini menjalani passion lain, yaitu menulis. Ini pun sungguh menggairahkan. Saya akan menulis dan menulis, menghasilkan banyak buku. Saya juga melakukan berbagai eksplorasi dengan hobi saya yang lain, yaitu memasak. Saya masak, saya potret hasilnya, saya tulis resepnya.

Saya kini hidup dalam passion.

Jadi, passion itu bukan agama yang tak boleh berganti. Passion itu bukan sesuatu yang harus disembah. Passion itu bukan pengikat. Ia bukan subyek, kitalah subyeknya. Gairah kita dalam melakukan sesuatu, itulah passion.

Tulisan Hasanudin Abdurakhman lain bisa dibaca juga dihttp://abdurakhman.com

Baca Juga

Pengajian Akbar YPSA 04 Maret 2017 Oleh Ustadz Rudiawan Sitorus,MA

YPSA kembali menggelar pengajian akbar dengan ustadz penceramah Rudiawan Sitorus,MA,  yang akan dilaksanakan pada hari …