Wednesday , July 26 2017
Beranda / Arsip Berita / Khazanah / Hikmah: Pandai Merasakan

Hikmah: Pandai Merasakan

Saat mengajar di Kabupaten Siak, Riau, pada 2005 silam, saya punya murid istimewa. Selain suka tidur di kelas, murid tersebut sekali waktu pernah kalap saat diminta mengerjakan tugas matematika. Dia menggebrak meja, lalu naik meja dan bicara sangat lantang, “Saya tak suka Pak Guru dan saya tak mau belajar matematika”.

Saya dan murid-murid lain terhenyak. Murid tersebut terlihat sangat marah. Emosi saya sempat tersulut. Alhamdulillah, akal sehat memandu saya untuk bereaksi, taklukkan nafsu, dan tetap bersikap tenang. Perilaku buruk pantang dibalas perilaku buruk lagi.

Sambil berupaya mengendalikan diri, saya berkata, “Pak Guru yakin, kamu sedang memiliki masalah. Jika kamu berkenan, setelah pelajaran usai, kamu bisa menjumpai Pak Guru. Semoga Pak Guru bisa bantu atasi masalahmu.” Murid tersebut kembali tenang, menyampaikan kata-kata maaf, lalu duduk kembali. Selepas pelajaran usai, murid istimewa itu benar-benar menemui saya.

Saya awali pertemuan itu dengan satu pertanyaan, “Apakah kamu punya masalah berat, Nak? Ceritakan pada Pak Guru.”  Akhirnya, anak tersebut bercerita tentang peliknya kehidupan di keluarganya. Di rumah, anak tersebut selalu terposisi jadi anak bandel dan dianggap biang kerok. Ibunya bekerja sebagai buruh di perusahaan kebun sawit, sedangkan ayahnya bermalas-malasan di rumah. Pola komunikasi keluarganya di rumah sering menggunakan bahasa kekerasan untuk menyelesaikan konflik.

Di akhir obrolan, murid istimewa saya dengan tulus meminta maaf dan tak akan ulangi sikap buruknya pada guru lain. Hal yang sangat mengharukan, pada saat acara perpisahan, murid istimewa saya memberikan secarik kertas dibungkus amplop. Isi suratnya mengisahkan kenangan-kenangan yang dia rasakan saat belajar bersama saya dan doa terbaik yang dipanjatkan untuk kebaikan hidup saya. Masya Allah.

Ada banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari peristiwa itu. Pertama, saat murid berperilaku buruk, segera koreksi diri. Apakah ada yang salah dengan cara mengajar dan mendidik sebagai guru? Kedua, pahami dan selami persoalan murid-murid. Perilaku buruk murid tak berdiri sendiri. Masalah keluarga mereka yang tak selesai di rumah bisa muncul di sekolah. Bantu atasi masalah murid-murid. Itulah tanggung jawab guru.

Ketiga, selalu melihat perilaku buruk murid dari sudut pandang yang positif. Misal, guru tetap memandang lebih baik jika ada murid yang tertidur di kelas daripada mengganggu teman-teman lainnya di kelas. Keempat, kontrol diri saat hadapi perilaku buruk murid. Saat guru bisa mengendalikan diri, kata-kata dan sikapnya bisa menghadirkan keselamatan, ketenangan, dan ketenteraman bagi dirinya sendiri dan para murid yang berperilaku buruk. Ujung-ujungnya, mereka bisa menghukumi perilaku buruk murid dengan adil.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan” (QS an-Nahl: 90). Sikap pandai merasakan bisa jadi salah satu kunci keberhasilan guru memperbaiki perilaku buruk murid. Ciri guru yang pandai merasakan: tak egois, gemar introspeksi diri, mudah tersentuh dan berempati dengan kesulitan hidup murid, selalu melihat segala hal secara positif, dan mengutamakan tanggung jawab.

Jika guru tak pandai merasakan, sulit untuk mendeteksi kesulitan hidup para murid. Jika gagal mendeteksi kesulitan hidup murid, guru tak bisa membantu mengatasi persoalan hidup murid. Padahal, puncak jihad bagi seorang guru adalah bisa membantu mengatasi masalah hidup murid-murid. Firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Ankabut: 69). Wallahu a’lam bishawab.

Baca Juga

Pohon Berbuah Sekali

Saya terpesona menengok pohon pisang di halaman Masjid Bir Ali, miqat ihram sebelum memasuki Kota …