Tuesday , November 21 2017
Beranda / Ayo Kreatif / Hati-hati Menyikapi Si Keras Hati
shafiyyatul.com
foto: ilustrasi keluarga

Hati-hati Menyikapi Si Keras Hati

Saat ini pendidikan karakter sangat tepat ditanamkan pada anak usia dini. Pendidikan karakter (character education) untuk saat ini sangat sesuai dalam mengatasi krisis moral yang kian melanda. Perubahan sikap anak mulai tampak begitu jelas pada saat anak berusia sekitar 2-5 tahun. Pada usia inilah terlihat begitu jelas seperti apa pendidikan pertama yang diperoleh seorang anak dari dalam keluarga.

Banyak orang yang beranggapan bahwa sekolahlah yang menjadi tempat anak pertama sekali memperoleh pendidikan, sebenarnya anggapan itu salah. Justru keluargalah tempat pertama anak memperoleh yang namanya pendidikan.

Banyak faktor yang sebenarnya menjadi penyebab anak menjadi seorang yang keras kepala bahkan terkadang suka melawan:

1. Tidak terjalinnya hubungan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua.

2. Orang tua terkadang tidak menyadari efek dari prilaku suka membentak anak yang menyebabkan anak merasa tertekan.

3. Sikap selalu memanjakan anak, yang mungkin kita sebagai orang tua tidak menyadari efek dari sikap tersebut.

4. Anak secara tidak langsung pasti akan meniru segala tindak tanduk yang kita lakukan, kalau kita keras kepala, sudah tentu anak kita keras kepala.

5. Sikap tidak pernah mau mengalah terhadap anak tanpa memberikan penjelasan yang sesuai, seakan anak tidak memiliki satu kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.

6. Padatnya aktivitas orang tua yang menyebabkan tidak tersedianya waktu luang untuk berbagi cerita.

Untuk menyikapi permasalahan tersebut ada beberapa kiat-kiat sederhana yang mungkin dapat kita lakukan:

1. Sediakan waktu luang untuk dapat memberikan perhatian yang lebih untuk anak.

2. Pada hari libur, ajaklah anak-anak rekreasi di tempat yang indah.

3. Seringlah bertanya pada anak mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran.

4. Selain jadi orang tua, kita juga harus berperan sebagai teman bagi anak, agar anak tidak sungkan untuk membicarakan permasalahan yang mungkin sangat sulit untuk ia pikul.

5. Jadilah embun penyejuk ketika anak sedang membuat kesalahan.

Dengan melaksanakan kiat-kiat tersebut, anak akan merasa nyaman. Anak akan menjadikan kita sebagai tempat satu-satunya untuk menyampaikan segala permasalahan yang ia hadapi. Anak akan menjadi seorang anak yang memiliki sifat terbuka. Emosi anak akan menjadi lebih stabil. Anak akan memiliki rasa percaya diri. Anak akan menjadi seorang yang penurut.

Oleh Eliya F.N
Guru Bahasa Indonesia SMP YPSA

Baca Juga

shafiyyatul.com

Mensos RI: Ayo Viralkan Hari Pahlawan 2017

Jakarta, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak pengguna media sosial untuk memeriahkan peringatan Hari Pahlawan …