Saturday , June 24 2017
Beranda / Sejarah Singkat dan Landasan Pendirian YPSA

Sejarah Singkat dan Landasan Pendirian YPSA

SEJARAH SINGKAT

Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) didirikan pada 20 Desember 1997 oleh Almh. Hj. Djamaliyah (Ibunda Pembina YPSA, Buya Drs. H. Sofyan Raz, Ak., M.M.) beserta badan pendiri lain yang juga merupakan keluarga inti Buya Sofyan Raz dan Umi Hj. Rahmawaty Sofyan Raz. Kisah pendirian YPSA sendiri dimulai dari panggilan hati yang tulus dari seorang Umi Hj. Rahmawaty Sofyan Raz (akrab dipanggil Umi Etty, saat ini menjabat sebagai Ketua Umum YPSA) untuk membaktikan diri mengajar kalam Allah dalam suatu wadah Taman Pembelajaran Al-Quran (TPA) di garasi rumah Beliau.

Pada tahun 1997, YPSA mendirikan PG-TK YPSA di sebuah bangunan bekas warung mie ayam di area Jalan Setia Budi Medan dengan mengedepankan konsep pendidikan rumah, sehingga anak didik selalu betah di sekolah karena merasa seperti di rumah sendiri.

Waktu berjalan, membawa keluarga Buya Sofyan Raz untuk secara total mengabdikan diri pada dunia pendidikan melalui YPSA sehingga saat ini YPSA telah menjadi salah satu sekolah islam internasional yang menjadi kebanggaan Medan dan Sumatera Utara. YPSA kini telah memiliki 4 jenjang sekolah mulai dari PG-TK, SD, SMP, SMA dan bahkan memiliki akreditasi A “Amat Baik” serta menjadi Authorized Cambridge International Examination Centre.

 

LANDASAN PENDIRIAN YPSA

LANDASAN AL-QUR’AN:

  1. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S Al Mujadalah : 11)
  2. Dan hendaklah takut kepada Allah, orang–orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka (Q.S. Annisa : 9)
  3. Tidak sepatutnya orang mukmin pergi mengurus keduniaan, mengapa tidak pergi dari tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (Q.S. At Taubah : 122)

LANDASAN HADIST RASULULLAH MUHAMMAD SAW

  1. Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Hitam, Putih, atau Abu-abu (HR. Abu Hurairah RA).
  2. Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula (HR. Bukhari dan Muslim).
  3. Orang yang paling utama diantara manusia adalah orang mukmin yang mempunyai ilmu, dimana kalau dibutuhkan (orang) dia membawa manfaat/memberi petunjuk dan dikala sedang tidak dibutuhkan dia memperkaya/menambah sendiri pengetahuannya (HR. Baihaqi).
  4. Segala sesuatu yang ada jalannya dan jalan menuju surga adalah ilmu (HR. Zailany).
  5. Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik).